Tridayanews.id|Nganjuk,Jawa Timur– Hari Raya Iduladha tidak sekadar menjadi ritual keagamaan tahunan, melainkan sebuah momentum sakral untuk mengikis sekat sosial melalui semangat berbagi dan kepedulian antarsesama. Di tengah gema takbir yang mengangkasa, esensi dari pengorbanan dan keikhlasan berwujud nyata di kabupaten nganjuk. Menangkap makna mendalam tersebut, Anggota DPR RI, Bimantoro Wiyono, S.H., kembali menunjukkan komitmennya sebagai penyambung lidah sekaligus pelayan rakyat dengan menyalurkan hewan kurban berukuran fantastis untuk masyarakat di daerah pemilihannya.Rabu, 27/5/2026.
Pada perayaan Iduladha tahun ini, legislator muda yang akrab disapa Bima tersebut menyerahkan dua ekor sapi kurban berbobot jumbo. Tidak tanggung-tanggung, salah satu sapi yang disalurkan merupakan maskot berbobot raksasa mencapai 1,2 ton, sementara satu ekor lainnya memiliki bobot tak kalah impresif sebesar 6 kuintal. Dari prosesi kurban yang penuh khidmat ini, tim di lapangan berhasil mengemas dan mempersiapkan sebanyak 1.200 paket daging kurban yang siap didistribusikan secara merata kepada warga yang berhak menerima.

Prosesi penyerahan hingga penyembelihan hewan kurban berlangsung dengan penuh rasa kekeluargaan, dihadiri oleh jajaran tokoh masyarakat, pemuka agama, serta ratusan warga setempat. Kehadiran figur Bimantoro Wiyono di tengah-tengah masyarakat nganjuk dalam momen sakral ini seolah menegaskan bahwa jarak kedudukan antara wakil rakyat, konstituen di daerah bukanlah pembatas untuk saling merangkul.
Dalam keterangannya yang penuh kehangatan, Bimantoro Wiyono menyampaikan pandangan filosofisnya mengenai Iduladha.Momen kurban adalah waktu yang paling tepat untuk merefleksikan diri, menguatkan tali persaudaraan (ukhuwah Islamiyah), serta menebar kebahagiaan yang inklusif, khususnya bagi warga yang selama ini jarang menikmati daging karena keterbatasan ekonomi.
”Menyerahkan dua ekor sapi kurban dengan bobot maksimal ini adalah wujud rasa syukur saya yang terdalam kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala nikmat yang diberikan. Lebih dari itu, ini adalah bentuk cinta kasih dan ikatan batin kami kepada masyarakat nganjuk. Idul adha mengajarkan kita semua arti penting melepaskan ego, lalu berbagi apa yang kita miliki agar kebahagiaan dan keberkahan bisa dirasakan oleh semua kalangan tanpa terkecuali, dari hilir hingga ke hulu,” ujar Bimantoro dengan penuh ketulusan.
Sebagai wakil rakyat, Bima menegaskan komitmen politik kemanusiaannya. Ia percaya bahwa tugas seorang anggota parlemen tidak melulu soal memperjuangkan legislasi dan anggaran di tingkat pusat, melainkan juga harus hadir secara fisik, emosional, dan spiritual dalam setiap sendi kehidupan kemasyarakatan di daerah pemilihan. Melalui 1.200 paket daging kurban ini, ia berharap dapat sedikit meringankan beban masyarakat sekaligus mempererat rajutan silaturahmi.
”Bagi saya pribadi, melihat senyum bahagia di wajah bapak, ibu, dan anak-anak saat menerima paket daging ini adalah kebahagiaan yang tidak bisa dinilai dengan materi. Semoga ibadah kurban kita semua diterima oleh Allah SWT, dan dagingnya tidak hanya membawa keberkahan, tetapi juga membantu pemenuhan gizi yang baik bagi keluarga yang menerimanya. Semangat gotong royong dan berbagi seperti ini adalah fondasi bangsa yang harus terus kita rawat bersama,” tambahnya.
Apresiasi Tinggi dari Masyarakat Nganjuk
Agar tepat sasaran dan berjalan dengan tertib, proses penyembelihan hingga distribusi daging kurban diatur secara sistematis dan sesuai dengan syariat Islam. Pihak panitia melibatkan aktif perangkat desa setempat, tokoh pemuda, serta para relawan untuk memastikan paket daging sampai langsung ke tangan yang berhak, seperti kaum dhuafa, anak yatim, janda tua, dan pekerja sektor informal di beberapa desa terpencil.
Langkah nyata dan kepedulian yang konsisten dari Bimantoro Wiyono ini pun langsung memanen apresiasi tinggi serta respons emosional yang positif dari warga nganjuk. Banyak warga yang mengaku sangat terbantu, mengingat harga daging sapi di pasaran yang kerap melambung tinggi menjelang dan pasca-hari raya. Aksi nyata ini dinilai sebagai bukti bahwa Bima adalah sosok pemimpin yang tidak melupakan akar rumputnya setelah terpilih.
Di akhir penjelasannya, Bima memberikan pesan menyentuh agar esensi murni dari Hari Raya Idul adha tidak berhenti begitu saja setelah prosesi penyembelihan hewan kurban selesai. Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk membawa semangat Idul adha ke dalam kehidupan sehari-hari.
Menurutnya, nilai-nilai pengorbanan, kepatuhan kepada sang pencipta, ketakwaan, serta semangat gotong royong harus diimplementasikan dalam kehidupan bermasyarakat guna mewujudkan kabupaten nganjuk yang lebih rukun, harmonis, maju, dan sejahtera.(di)


















