Tridayanews.id|Nganjuk– Sebuah insiden memprihatinkan menimpa seorang anak di Desa Kaloran. Niat hati ingin menjalankan syariat khitan, sang anak justru harus menahan sakit yang luar biasa akibat kondisi fisiknya yang memburuk pasca tindakan medis.
Kejadian ini diduga melibatkan oknum tenaga medis dari RSU Kertosono yang membuka praktik mandiri di Desa Kaloran dengan inisial H.
pembengkakan mulai terlihat sesaat setelah proses khitan selesai.
”Awal mulanya setelah sunat itu bengkak sedikit-sedikit. Terus diberi obat sama mantrinya itu, malah tambah bengkak,” ungkap sang ibu dengan nada cemas, saat di temui awak media tridayanews. Jumat, 3/4/2026.
Keluarga EP Desa Kaloran, Kec. Ngronggot.
Kondisi sang anak kian mengkhawatirkan. Area testis mengalami pembengkakan yang sangat tidak wajar, bahkan sang ibu mengibaratkan besarnya melebihi ukuran telur angsa. Akibatnya, sang anak tidak mampu melakukan aktivitas dasar seperti berjalan, duduk, bahkan terus menangis selama berhari-hari karena menahan nyeri.
Respons Tenaga Medis:
Pihak keluarga sempat mengonsultasikan kondisi tersebut kepada oknum berinisial H. Namun, jawaban yang diterima dianggap tidak memberikan solusi yang pasti.
Diagnosa Awal: Oknum menyebutkan bahwa pembengkakan tersebut adalah reaksi alergi terhadap obat bius.
Tindakan: Pasien diberikan pil berwarna kuning, namun kondisi bukannya membaik malah semakin membengkak.
Kontrol: Meskipun sudah dilakukan kontrol sebanyak dua kali, tidak ada perubahan signifikan pada kondisi pasien.
Keluarga Mencari Keadilan
Karena tidak ada itikad baik atau perubahan medis dari pihak yang bersangkutan, keluarga akhirnya memutuskan untuk membawa sang anak ke Klinik Pare Kandangan untuk mendapatkan perawatan yang lebih intensif.
Hingga berita ini diturunkan, pihak keluarga berharap ada pertanggungjawaban nyata dari tenaga medis terkait atas kondisi yang dialami putra mereka. Kejadian ini menjadi peringatan keras bagi masyarakat untuk lebih berhati-hati dalam memilih tempat praktik medis mandiri.(di)