banner 400x830

Banyak Rumah Bambu di Desa Bukur, Kades Minta Pemkab Nganjuk Turun Tangan

banner 120x600
banner 468x60

 

Tridayanews.id|NGANJUK – Setelah sempat viral dalam pemberitaan terkait kondisi rumah tidak layak huni milik warga di Desa Bukur, Kecamatan Patianrowo, Kabupaten Nganjuk, pemerintah desa setempat akhirnya angkat bicara mengenai kondisi sebenarnya di lapangan.

banner 325x300

Kepala Desa Bukur, Nur Yahya, mengakui bahwa hingga saat ini masih terdapat cukup banyak rumah warga yang kondisinya memprihatinkan, bahkan sebagian masih berdinding bambu dan sangat membutuhkan bantuan renovasi agar dapat menjadi tempat tinggal yang layak.

Saat dikonfirmasi awak media, Nur Yahya menyampaikan bahwa pihak pemerintah desa sebenarnya sangat berharap persoalan rumah tidak layak huni tersebut dapat segera tertangani. Namun menurutnya, pemerintah desa juga memiliki keterbatasan anggaran jika harus menanggung seluruh biaya perbaikan rumah warga.

“Kami tentu ingin membantu warga yang rumahnya tidak layak huni, tetapi kalau semua harus dibebankan ke anggaran desa tentu sangat berat. Kami juga berharap ada bantuan dari pemerintah kabupaten agar masalah ini bisa ditangani bersama,” ungkap Nur Yahya, Selasa, 9/3/2026.

Ia menjelaskan bahwa selama ini program bedah rumah dari pemerintah kabupaten memang pernah diajukan oleh pihak desa. Namun jumlah bantuan yang turun dinilai masih belum mampu menjangkau seluruh warga yang membutuhkan.
Menurutnya, pada tahun 2018 pihak desa pernah mengajukan program bantuan ke Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perkim) Kabupaten Nganjuk, namun realisasi bantuan saat itu hanya sebanyak 14 unit rumah.

“Kami sudah pernah mengajukan sejak tahun 2018, tetapi yang terealisasi saat itu hanya 14 unit. Sementara kondisi di lapangan masih banyak rumah warga yang perlu diperbaiki,” jelasnya.

Ia juga mengungkapkan bahwa dalam pelaksanaan program bedah rumah sering kali terdapat kekurangan anggaran. Hal ini menjadi persoalan tersendiri, mengingat sebagian besar warga yang rumahnya tidak layak huni merupakan masyarakat dengan kondisi ekonomi terbatas.

“Kalau ada kekurangan anggaran dalam pembangunan rumah, tentu menjadi pertanyaan siapa yang akan menanggung. Sementara rata-rata warga yang menerima bantuan memang tidak memiliki kemampuan biaya tambahan,” tambahnya.

Terkait viralnya pemberitaan mengenai rumah bambu milik seorang warga bernama Suleni, Kepala Desa Bukur memastikan pihaknya akan segera mengambil langkah dengan mengupayakan pengajuan bantuan kembali kepada pemerintah terkait.

Selain itu, pemerintah desa juga akan kembali mendata rumah-rumah warga yang masih dalam kondisi tidak layak huni untuk diusulkan dalam program bantuan berikutnya.

Nur Yahya berharap pemerintah Kabupaten Nganjuk dapat memberikan perhatian lebih terhadap kondisi perumahan masyarakat di Desa Bukur, mengingat hingga saat ini masih terdapat cukup banyak rumah warga yang kondisinya jauh dari kata layak.

“Kami berharap pemerintah kabupaten bisa turun tangan dan memberikan perhatian lebih, karena di Desa Bukur ini masih banyak rumah warga yang terbuat dari bambu dan membutuhkan bantuan renovasi,” pungkasnya.(di)

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *